Cahaya Terakhir
Lilin Kecil
Aku memandangi
wajahmu bersama lirih angin, bersinar penuh cinta
Wajahmu indah
layaknya edelweis, ia memberi harapan untukku tetap tegar
Namun, jiwa
ragaku digerogoti rasa takut, takut jika suatu saat bunga itu menangis kehilangan.
"Sayang,
jika kini aku tumbuh bersama penyakit yg melumat isi tubuhku, tapi aku tak
pernah memberitahumu, dan suatu saat engkau tau dari org lain, bukan dariku,
apa yg akan kau lakukan?"
Mata itu sekejap
berkaca, hatinya tersayat, terlukis jelas dan bibirnya gemetar, "Aku akan
marah padamu! Ya, aku akan sangat marah!"
Pipinya dialiri
air mata.
Dipayungi sinar
lilin kecil, aku berteriak sementara bibirku rapat tertutup, hatiku menangis
sementara bibirku mencoba tuk tersenyum.
Aku menulis
sebuah surat untuknya, "Sayang, kau adalah bunga edelweis yg tumbuh
bersama senyum, tawa dan harapan. Jangan kau basahi ia dengan air mata
kesedihan esok hari. Aku bukan ingin membuatmu marah karna tak memberitahumu
tentang sakit yg kini menemani sisa hidupku. Namun, aku tak ingin merusak
senyum indahmu. Biarkan ia tetap indah seperti saat pertama bersua. Biarkan!
Aku bukan tak ingin berbagi derita, tetapi ketahuilah aku tak ingin hidupmu
dipasung oleh khawatir dan didera rasa cemas terhadapku. Aku ingin melihat kau
tetap tersenyum bersamaku agar aku tetap tegar dalam harapan. Sayang, saat ini
aku sedang tersenyum. Aku merasa menang melawannya, karna ketika ia terus
melumat tubuhku, aku tak pernah mengeluh akan hidupku karna kau ada di sisiku.
Sehingga aku tegar memeranginya. Kini, aku adalah lilin kecil yg telah redup
dan akan mati bersama waktu. Jika suatu saat kau merasa sepi, ketahuilah, aku
sedang bersamamu. Aku tak pernah mati di dalam hatimu. Bagaimana aku telah
mati? Karna jika kau merasa kehilangan, berarti aku tidak pernah ke mana-mana,
aku sedang tersimpan rapi dalam hatimu yang paling dalam. Aku tak pernah pergi
selamanya dan aku selalu tinggal di dalam hatimu selamanya."
Aku memandangi
lilin kecil yang mulai redup sinarnya. Aku bercerita banyak hal kepadanya. Jika
sisa waktuku masih banyak, aku akan mengecup bibirnya semenit saja dan memeluk
erat tubuhnya. Merasakan hangatnya cinta dari edelweis dan berkata padanya,
"Kau adalah harapan. Kau membuatku tegar dan menghabiskan hidup dengan
senyuman, bukan mengeluh. AKu bahagia bersamamu".
Kemudian, api
lilin itu mati meninggalkan asap dalam sunyi dan tersenyum.
Oleh: Edo Hia
Padang, 6
Agustus 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar