Cerita Perjalanan ke Kinali,
Pasaman
Sebuah tempat nyaman yang baru saya kunjungi,
Pasaman. Pasaman adalah sebuah kecamatan di Sumatera Barat. Kali ini, saya
berkunjung ke daerah Pasaman Barat, tepatnya di Kinali. Ini kali pertama saya
menginjakkan kaki di tempat ini. Tempatnya bersih dan jauh dari polusi seperti
yang saya alami di kota Padang. Lingkungannya nyaman dan asri. Perumahannya pun
terbilang cukup sederhana, di mana sebagian rumah penduduknya masih ada yang
dibangun secara semi-permanen. Di sepanjang jalan pun, Anda akan melihat banyak
pepohonan yang tumbuh di pinggir jalan. Ada pohon pisang, pohon jambu, cemara,
pohon kelapa, nangka bahkan pohon sawit yang menjadi ciri khas daerah ini. Tetapi
sayangnya, kondisi jalan di sini kurang baik, di mana jalanannya banyak yang
berlobang dan terbilang rusak. Namun, Anda tidak akan merasa bosan berada di
sini. Di samping itu, kehidupan warganya terbilang cukup baik, di mana
suasananya sangat berbeda di kota-kota. Di sini. Penduduknya saling tegur sapa
ketika bertemu di jalan dan hidup rukun antar tetangga yang ditunjukkan ketika
saya berada di tempat ini. Hal lain yang menjadi perhatian saya ketika berada
di tempat ini adalah bangunan gerejanya. Gereja di Kinali ini sangat megah
dengan patung Bunda Maria berada di depannya seakan menyambut umatnya untuk
masuk. Itulah hal-hal yang saya rasakan dan alami di tempat ini.
Perjalanan saya kali ini berawal di saat teman
saya, Eko mengajak saya untuk liburan ke kampung halamannya. Tanpa berpikir
panjang, saya pun mengiyakannya. Lalu, pada hari Senin, tanggal 5 Agustus 2013,
kami berdua berangkat memulai perjalanan dari Padang sekitar pukul 17.00 WIB
dengan mengendarai Vario Biru miliknya. Setelah melewati batas kota Padang,
kami berhenti untuk beristirahat di pinggiran jalan. Kami pun menyantap ayam
goreng yang baru saja kami beli. Kemudian, saya membeli minuman soda untuk
menghilangkan haus, yang kebetulan warungnya berada tak jauh dari tempat kami
berhenti. Banyak orang yang melihat ke arah kami yang sedang asyik menyantap
dikarenakan saat itu belum waktunya berbuka puasa. Tetapi, kami sudah berbuka duluan.
Haha.. Tetapi, kami cuek saja. Kemudian, kami terus melanjutkan perjalanan. Di
Pariaman, kami membeli gorengan (Sala Lauak dan Udang Goreng) untuk cemilan di
atas motor. Untuk sedikit bersantai, kami merubah arah laju motor ke arah kiri.
Kali ini, kami melewati Pantai Pariaman. Tapi, sore itu, pantainya sedikit sepi.
Setibanya di Lubuk Basung, kami berhenti sebentar untuk makan sate yang
kebetulan ada di pinggir jalan. Tidak butuh waktu lama, kami menghabiskannya
sambil terus bercerita. Kami kemudian melanjutkan perjalanan karena hari
semakin gelap.
Semakin lama, hari semakin larut. Perjalanan di
atas motor kami habiskan hanya dengan bercerita dan sesekali bercanda gurau.
Bahkan tak jarang, Eko mengejutkan anak-anak yang sedang berjalan kaki yang
membuat saya tertawa terbahak melihat ekspresi mereka. Sekitar, pukul 21.30
WIB, kami tiba di Kinali. Kami tidak langsung menuju rumahnya, tetapi kami
berhentidi sebuah rumah di mana ada banyak pemuda yang sedang nongkrong dan
minum tuak. Sambutan mereka cukup hangat. Mereka mengajak kami untuk bergabung
bersama mereka dan menawari kami minum. Saya pun mencicipinya, namun hanya
beberapa tetes saja karena saya tidak terbiasa meminumnya. Dikarenakan mereka
semua adalah anak-anak keturunan Jawa, jadi mereka bercengkrama hanya dengan
bahasa Jawa. Saya pun memilih diam di antara mereka dan terus memainkan handphone
membalas sms. Tak terasa, sudah pukul 23.00 WIB dan kami pun segera pulang
duluan. Tak jauh dari tempat tadi, hanya sekitar 5 menit jaraknya, kami pun
tiba di rumah Eko. Adik perempuannya membukakan pintu dan kami pun masuk. Saya
kemudian berkenalan dan menyalami orang tuanya dan kami langsung memilih untuk
istirahat di kamar karena kelelahan.
Namun, kami tidak langsung tidur. Malam itu
adalah malam yang panjang buat Eko yang sedang galau (jika kamu tau dia
kenapa). Haha.. Kami sedikit bercerita dan terus bercerita. Lalu, untuk
menghilangkan rasa gundah gulana itu, ia pun menghidupkan laptop untuk bermain
game GTA San Andreas. Tetap saja dengan tampang kusut dan suram tentunya. Saya
pun memilih untuk segera tidur duluan.
Keesokan harinya, saya terbangunduluan dan segera
mencuci muka, sementar Eko masih saja terbaring tidur. Saya terus saja
mengganggunya, tetapi ia tetap tidak mau bangun. Akhirnya, sekitar pukul 10.00
WIB, ia pun terbangun dan langsung mengajak untuk pergi memancing. Sebelum
pergi, kamu makan dulu. Lalu, kami pergi dengan mengendarai Supra Hitam milik
ayahnya. Perjalanan ke tempat pemancingan pun jauh. Belum lagi jalanan berbatu
yang mengganggu perjalanan kami. Kami melewatinya sambil terus bercerita dan
bercanda. Jalanannya sangat gersang dan di sepanjang jalan itu juga diikuti
bandar yang memanjang tak berujung. Di balik bandar itu adalah ladang sawit,
hampir setiap meter yang kami lalui ditumbuhi oleh pohon sawit. Namun
sayangnya, hutan di sini telah tergantikan ladang sawit. Kemudian, akmi
berhenti di sebuah ladang sawit untuk mencari umpan cacing. Tentunya, Eko masih
dengan suasana galaunya dan saya pun tak jarang selalu meledeknya. Setelah
cacing yang kami dapatkan banyak, kamibpun memutuskan untuk melanjutkan rencana
memancing. Sambil terus berjalan di bawah terik matahari, ban depan motor pun
pecah. Tetapi, kami tetap memaksakannya karena perjalanan kami masih jauh.
Akhirnya, kami berhenti di sebuah pinggir bandar besar. Tanpa banyak omong,
kami langsung melemparkan pancing ke dalam air, tak butuh waktu lama saya pun
mendapat ikan kecil. Waktu itu, kami memancing sembari sms-an. Entah apa yang
membuat sial, setelah setengah jam kami duduk bermenung di situ, ikan yang kami
dapat hanya beberapa ekor saja. Mungkin karena Eko yang masih galau dan saya
terus-menerus menertawainya. Kesialannya mungkin ada pada Eko. Hehe.. Ciee..
Yang lagi galau.. Hehe.. Peace! Karena sudah bosan berada di situ, kami pun
segera mencari tempat lain.
Namun, di tengah perjalanan, ban belakang motor
pun ikut pecah. Fak! Kesialan apa lagi ini? Betapa sialnya kami hari itu.
Mungkin, karena Eko yang setengah hati membawa motor dan setengah hatinya lagi
ketinggalan di Padang. Heheh.. Dengan terus memaksakan kondisi ban motor yang
keduanya telah pecah, kami terus melanjutkan perjalanan. Kami pun mencoba
memancing di beberapa tempat, namun hasilnya sama saja. Akhirnya kami berjalan
kaki sambil mendorong motor dan tiba di ladang sawitnya Eko, kami pun berhenti
di sana. Kami memancing di sebuah kolam. Namun, alih-alih ikan yang didapat,
mata kail kami pun tersangkut di dasar kolam. Kami pun membiarkannya begitu
saja, karena sudah merasa bosan. Kami hanya bercerita panjang seputar kegalauan
yang sedang dia alami saat itu dan mungkin masih sampai sekarang. Hahah.. Mata
kail yang tersangkut tadi tidak lagi kami ambil melainkan diputuskan begitu
saja. Kami pun membuang ikan-ikan hasil pancingan tadi karena Cuma beberapa
ekor saja dan juga umpan cacing yang kami bawa. Mungkin, kami tidak cocok
memancing ikan, mungkin cocoknya hanya memancing keributan saja. Heheh.. Kami
pun pergi untuk pulang. Masih mendorong motor tadi. Karena mengingat waktu,
kami membuat kesepakatan. Eko meninggalkanku sendirian di ladang sawit lalu
mengantar motor ke bengkel dan menjemputku dengan Vario Birunya. Selang
beberapa menit, dia pun kembali. Kami pun tidak langsung pulang. Kami memilih
untuk bersantai sambil duduk di tengah jalan untuk menikmati sore ladang sawit.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Kami pun
beranjak dan memutuskan untuk segera pulang. Tetapi, di tengah jalan, kami
memutuskan untuk menemui teman SMK dulu yang sudah lama tidak saya temui.
Rumahnya berada tepat di sampin Masjid Baba Salam. Kami pun duduk di depan
rumahnya sambil bercanda sambil sesekali saling meledek. Maklum, tradisi
sewaktu masih di SMK dulu. Penyakit lama kambuh lagi.
Kami pun pulang ke rumah tepat sebelum orang
berbuka puasa. Kami kemudian mandi dan makan. Saya duduk sebentar di ruang tamu
sambil mencharging handphone. Eko mengajak saya untuk keluar rumah. Kami menuju
tempat nongkrong teman-teman yang kemarin, namun di tempat yang berbeda. Saat
sedang bercengkrama, ada banci mampir ke tempat kami nongkrong. Banci itu pun dengan
genitnya menggoda semua cowok yang ada di situ termasuk saya. Karena merasa
geli dan risih, saya pun memilih untuk mencari tempat yang strategis dan aman
dari segala gangguan makhluk ragu-ragu itu. Ternyata, beberapa dari anak-anak
yang nongkrong itu ada yang bisa berbahasa Mentawai. Jadi, saya sedikit
mengobrol dengan mereka. Teman-teman lain yang tidak mengerti apa yang sedang
kami bicarakan hanya tertawa sambil meledek kami. Pukul 23.00 WIB, kami segera
bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Kami pulang larut lagi dan keluarganya
telah tertidur. Kami masuk ke rumah dan langsung menuju tempat tidur. Tetepi,
Eko masih saja galau. Haha..
Saya menulis cerita liburan kali ini pagi hari
setelah saya bangun pagi. Saya rencananya akan pulang ke Padang hari ini dengan
menumpangi bus.
Pukul 11.15 WIB, saya berpamitan kepada ibunya
Eko sedangkan ayahnya sedang tidak di rumah. Saya menuju pasar untuk
mendapatkan bus dan diantar oleh Eko yang masih galau. Saya yang kala itu
menggunakan pakaian yang serba hitam sambil menjinjing helm fullface saya mengambil
tempat duduk paling depan di belakang supir bus. Saya tiba di Padang pukul 14.00
WIB dan dijemput oleh teman, Ricky Lepox.
Sekian
cerita perjalanan saya kali ini. Sampai jumpa di cerita saya yang lainnya.