HIDUP
INDAH DI BALIK ANCAMAN HERNIA
Banyak teman-teman
pernah ingin curhat ke aku, tapi banyak yang kemudian kecewa. Biasanya, kalau
mereka pengen curhat, itu karena masalah cowok/cewek, teman/sahabat dan orang
tua/keluarga. Ketiga hal inilah yang biasanya membuat orang bisa menangis. Lalu,
kenapa mereka bisa sampai kecewa? Ya, kebanyakan teman aku pasti curhat masalah
hati yang berhubungan dengan cowok/ceweknya. Seperti yang kita tau, kalau orang
curhat pasti pengennya kita mendengar mereka lalu memberikan saran ke mereka.
Tapi aku tidak. Aku lebih sering tidak meladeninya. Memang awalnya mendengarkan
mereka, tapi kemudian aku bakal ngasih saran-saran konyol sehingga apa yang
mereka inginkan gak kesampaian. Aku juga gak tau kenapa. Mungkin karena
dasarnya aku yang gak berbakat di dunia curhat. Haha.. Atau memang karna aku
yang selalu bersifat cuek. Bahkan, aku pun jarang curhat ke orang lain. Tapi,
berbeda dengan hal ini. Ini lain cerita. Ada kalanya aku bisa cerita ke
orang-orang tertentu saja atau merekalah yang bercerita ke aku. Secara gak
sadar, aku bisa saja cerita ke orang lain tentang masalahku atau cerita masa
lalu. Itu karna kalau aku merasa aku klop dengan cerita orang itu juga. Jadi,
aku gak menyebutnya curhat, tapi aku lebih sering menyebutnya ‘bercerita’.
Jadi, ceritanya
berawal dari sini. Aku punya teman, sebut saja Iko yang tanpa sadar aku sedang
mendengarkan ceritanya yang serius. Biasanya, kami selalu bercerita hal-hal
konyol tentang masa lalu, dan cerita-cerita yang tidak begitu serius dan
semacamnya. Dia ngomong kalau dia sedang mengidap sebuah penyakit kronis. Penyakit
apa itu? Awalnya, aku menanggapinya dengan gak serius. Pada awalnya, dia agak
malu-malu gitu untuk menceritakannya. Tapi, katanya gak ada orang lain yang tau
masalah ini. Hanya dia dan keluarganya saja yang tau. Jadi, dia juga ingin
berbagi cerita ke orang lain. Tapi, akulah orang pertama yang dia kasih tau dan
mungkin satu-satunya selain keluarganya. Aku juga gak tau kenapa ia mau cerita
ke aku tentang masalah ini. Mungkin karna hubungan emosional yang memang sudah
sangat dekat. Maklumlah, kita udah sahabatan sejak lama.
Penyakit yang ia
derita selama ini adalah hernia. Ada yang tau hernia itu apa? Jadi, hernia itu
adalah membengkaknya buah pelir (maaf) sesorang dikarnakan ususnya turun.
Biasanya, penyakit ini karna lemahnya otot dinding perut akibat faktor terlalu
aktif atau banyaknya kegiatan yang gak sebanding dengan staminanya. Penyakit
ini sering juga disebut turun berok.
Aku terdiam
mendengarnya bercerita, keningku mengerut dan aku menghela nafas. Iko mengaku
kalau penyakit ini telah menggrogoti tubuhnya sejak ia baru berusia 13 yang Iko
pada saat itu masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Berarti sampai saat ini Iko
telah menyandang hernia ini selama kurang lebih 6,5 tahun. Katanya, selama itu
dia membawa-bawa penyakit ini, selama itu pun waktu tak terasa olehnya. Yang
menjadi pertanyaan adalah kenapa selama ini gak berobat? Yah, dengan tersenyum
kecil dan mata berkaca-kaca, Iko mengaktakan kalau selama ini ia telah berusaha
untuk berobat ke pengobatan alternative, bahkan telah berkali-kali tapi gak
pernah ada perubahan. Satu-satunya jalan yang harus ia tempuh adalah operasi.
Ya, hernia memang haruslah dioperasi. Tapi, orang tuanya tak punya biaya yang
cukup untuk menjalani operasi itu. Selama ini, ia hanya bisa pasrah dengan
hidupnya. Satu hal yang paling melekat di hatiku mendengar perkataan Iko adalah
“Biarin aja penyakit ini bersama aku.
Toh, gak ada lagi yang bisa aku perbuat selain pasrah. Aku hanya berpikir kalau
Tuhan menitipkan kepadaku penyakit ini agar aku bisa menjaga tubuhku dan bisa
menghargai tubuhku yang Dia berikan. Agar aku tak seperti orang lain yang sibuk
merusak dirinya dengan alkohol, narkoba dan hal semacamnya, tapi aku hanya harus
menjaga dan merawat diri agar penyakitku gak semakin parah. Aku telah bersama
penyakit ini sejak SMP Ini sudah menjadi bagian dalam hidup aku”. Aku
menjadi heran, Iko yang selama ini aku kenal adalah orang yang begitu hebat.
Dia sangat aktif, dia pun hidup bebas seperti tanpa beban. Aku mengenalnya
selama ini adalah sosok yang sangat suka bercanda dan tertawa selalu. Hidupnya
berjalan santai tapi tetap pada alurnya. Dia memang gak ikut dalam kehidupan
yang kelam, dia hanya berjalan sesuai hatinya. Iko juga baik ke setiap orang. Dan
yang terpenting adalah dia selalu menghargai setiap orang yang ada di
sekelilingnya.
Aku hanya terdiam
dan bertanya, bagaimana ia bisa menjadi kuat? “Aku hanya berpikir kalau aku harus tetap hidup seperti apa adanya, bro.
Gak perlu ngeluh tentang penyakit ini. Aku ingin hidup seakan tanpa penyakit
dan harus tetap hidup seperti anak-anak lainnya. Buat apa mengeluhkan penyakit
ini, coba? Iya gak? Kalau aku ngeluh dan menangisi penyakitku ini, itu sama
saja dengan buang waktu dan hidup seakan menjadi gak berguna. Lebih baik kita
nikmatin hidup ini seperti apa adanya, tapi jangan sampai meleset, bro. Itu
lain cerita.” Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum mendengarnya berkata
demikian. Aku terheran-heran dibuatnya. Namun di balik itu semua, dia tetap gak
selamanya bisa bersembunyi di balik hernia yang dia derita selama ini. Iko
mengaku kalau ia pernah merasakan sakit yang luar biasa baru-baru ini. Sakit
itu belum pernah ia rasakan selama ini. Perutnya terasa sakit luar biasa dan
tak tertahankan. Ia tidak kuat berdiri saat itu. Awalnya, sakit itu mulai
terasa siang hari setelah pulang kuliah saat dia dan teman-temannya sedang
nongkrong, namun sakitnya hanya sebatas sakit yang bisa ditahan. Namun, semakin
lama dan hari semakin sore, perutnya mulai terasa seperti terlilit dan ia tak kuasa
menahannya lagi. Ia hanya bisa menekan di bagian perutnya yang sakit. Matanya
terpejam dan tak peduli lagi teman-temannya yang menanyakan ia kenapa. Iko
langsung pulang seketika dan terburu-buru. Sesampainya di depan rumah, ia jatuh
tersungkur tepat didepan pintu rumah yang masih terkunci karna gak ada orang di
rumah. Iko tergeletak di teras rumahnya sekitar 1 menit. Perlahan ia mulai
bangkit dan berdiri sambil tetap memegang perutnya. Iko membuka pintu dengan
kunci dengan tangan gemetaran. Ia kemudian membuka lalu menutup pintu kembali dengan
cepat. Lalu berbaring di kamarnya sambil berteriak menahan sakit itu. Ia
menangis cukup lama. Seketika terlintas di pikirannya untuk menghina Tuhan.
Namun tidak, ia malah mencoba berdoa sembari berbaring sambil memegang
perutnya. “Aku rasa, itu adalah doaku yang paling serius, bro. Aku belum pernah
berdoa sambil menangis seperti itu. Aku menangis bukan saja karna menahan rasa
sakit, tapi lebih dari itu semua, aku mengingat Tuhan juga, aku mengingat
kematian. Semuanya bercampur aduk. Memang, kita boleh merasa Tuhan menghukum atau
mencobai kita, tapi jangan pernah sekalipun berniat untuk menghujat Tuhan.
Gini-gini aku juga masih ingat Tuhan kok, bro. Hehe..” Sesaat setelah itu,
sakitnya perlahan mulai hilang lalu ia tertidur.
Keluarganya tak
pernah tau bahwa ia pernah merasakan hal ini. Sampai sekarang.
Hidup tanpa harapan
adalah kosong. Namun, ia juga tak bisa banyak mengaharpkan apa-apa untuk bisa
sembuh dari penyakitnya. Andai saja ada orang yang bisa menolongnya, ia akan
sangat menaruh hormat terhadap orang itu. Tapi apa daya, hanya bisa berpasrah
untuk saat ini. Saat menceritakan hal ini, matanya berkaca-kaca. Dan bagaimana dengan
aku? Bahkan saat menuliskan cerita ini pun, aku gak sadar kalau mataku mulai
berkaca-kaca mengingat sahabatku itu.
Banyak hal yang
bisa aku pelajari dari pengalaman hidupnya dan bahkan dari keterpurukannya di
dalam penyakit itu. Andai saja aku bisamenolongnya... Atau bahkan teman-teman
yang membaca cerita ini. Aku harap kalian mau membantunya, setidaknya berdoa
untuknya. kita tidak tau apa yang akan terjadi nantinya pada sahabatku yang
satu ini. Biarkanlah menjadi sebuah misteri. (Sunday, June
30th 2013-Edo Hia)