Translate

Jumat, 21 Agustus 2015



Aku TKI

Aku Sudarmanto,
pekerja dari tanah Jawa untuk Malaysia
Berumur 29 tahun dan telah bekerja bertahun-tahun,
hingga tak ingat lagi kapan aku pertama kali dikirim ke sini,
di negeri yang katanya dibenci ini.

Aku Sudarmanto,
dulunya aku cerdas di sekolah, tetapi putus sekolah karena biaya mahal.
Kini, bekerja mulai dari pagi buta hingga malam menjemput.
Tak pernah jumpa matahari hingga berbulan-bulan,
akulah di dalam kilang di bawah suruhan sang boss kilang yang wajahnya sangar, kusebut Ayam Jago.

Kini, hidupku telah terasa biasa.
Padahal dulunya menyakitkan, kurasa.
Masuk kerja menaiki bas pekerja berhimpitan, lalu pulang ke hostel dengan perut kosong dan peluh letih.
Makan sesekali, bukan ketika lapar
tetapi hanya ketika kantongku berisi.

Masih terngiang bagaimana,
layaknya siput dalam tempurung,
berjalan pelan mencari luar dari lingkaran gelap.
Bekerja di bawah tekanan dan dibentak layaknya binatang,
berbuat salah dipotong gaji.
Upahku per bulan cukup tinggi,

.............. sebenarnya.

Tapi, ia dipotong banyak oleh agen naker
dan aku kirim separoh untuk keluarga di kampung.
Mereka cukup senang dengan kiriman uangku,
tapi tak tahu aku menderita,
irit untuk makan, hingga sering sakit,
pakaian lusuh kusandang terus,
dulunya kubeli di pasar seken di dekat perimpangan stasiun.
Apa daya, keluargaku tak boleh tahu bahwa aku sedang susah.
Mereka cukup melihatku,
aku orang yang berhasil,
karena aku sedang di negeri orang.

Di kantin kilang aku melihat
orang makan dengan lahapnya, menyantap nasi lemak atau daging ayam berkuah dan nasinya yang masih hangat.
Sedang aku hanya menghisap rokok dan kopi hitam, sesekali melap peluh di kening dengan handuk kecil yang mulai lapuk dan sedikit koyak.

Aku Sudarmanto,
dulunya orang baik.
Hidupku layaknya tak lagi bergairah,
tapi sering aku bercinta dengan gadis Vietnam,
melumut habis tubuhnya yang putih mulus siang-siang
di toilet kilang. Ia kegirangan, nakal dan binal. Berulang kali, karena ia terus menagih dengan binal dan penuh nafsu. Memadu nafsu yang kian lama kurindu dan kehausan. Meski aku punya anak dua di kampung yang umurnya entah sudah berapa.
Tapi, apalah daya jika nafsu menggejolak.
Aku tak suka dengan gadis Myanmar,
mulutnya bau karena sarapan sirih.
Sedang gadis Nepal dan Bangladesh, bodinya bohai
hitam manis tapi jual mahal.
Gadis Melayu banyak yang tertarik padaku,
tapi, ah, mereka banyak yang munafik.

Dulu, waktu jalan-jalan ke kota sebelah,
aku bertemu teman lama, sesama TKI,
katanya ia punya teman seorang wanita, pembantu rumah tangga,
namanya kalau tak salah Lastri.
Ia pernah disulut rokok oleh majikannya, dikurung di kamar mandi hingga disetrika mulutnya.
Ia lalai ketika memasak sayur sedikit tak enak dirasa.

Di sini, banyak orang Indonesia, eh Indon sebutannya,
masih beranggapan bahwa kaum sesama kami adalah keluarga.
Tetapi orang-orang ini, di sini,
kami tak ubahnya sekumpulan binatang yang suatu saat bisa digiring dan disuruh-suruh untuk bekerja dan diludahi jika kami berjalan di pinggiran kota pada hari libur nasional.
Bahkan sering terjaring razia dan dianggap pendatang gelap.

Aku Sudarmanto,
seorang TKI dari tanah Jawa.
Hidup dalam pas foto lama hitam putih.
Merindukan kampung halaman, rumah, keluarga dan kebun yang dulunya sering aku tanami ubi.
Aku rindu bermain gitar di persimpangan jalan ketika malam hari, membawakan lagu Sajojo dan lagu Tomi J. Pisat,
rindu akan makanan khasnya dan riak laut ketika memancing di laut tak jauh dari rumah, rindu
anak-anakku yang ketika kutinggalkan masih berumur 2 dan 6 tahun, rindu mengantar anakku pergi sekolah dengan seragam putih merahnya, rindu menginjak tanah Indonesia yang subur,
rindu mendengar lantunan Indonesia Raya berkumandang dengan kibaran benderanya, karena aku mulai lupa liriknya. Tapi, jangan salah, nasionalismeku cukup tinggi dan terasa lebih daripada siapa pun,
meski negara memeras dan memperbudakku dengan rayuan
label pahlawan devisa.

Aku Sudarmanto,
mulai kehilangan jati diri.
Hidup tak jelas, bertahan dengan segala penyakit yang mulai merongrong, tak lagi mengenal Tuhanku, sudah 2 tahun tak menginjak masjid, tak lagi memiliki masa depan, otakku baku karena jarang dipakai dan hanya berlabel budak!

Tapi, aku Sudarmanto, seorang TKI,
aku ingin mempertanyakan sesuatu hal dalam diriku:
Kenapa aku dulunya ingin datang dan bekerja ke sini?
Tidakkah ada pekerjaan yang lebih manusiawi di negeriku sendiri?
Masih pantaskah aku untuk kembali pulang dan memeluk rumah yang telah lama kuceraikan? Bahkan aku kini bersimbah luka penuh nanah dan dosa.

Aku Sudarmanto,
Aku TKI.

Padang, 19 Mei 2015


SETIAP LIMA SENTI

Setiap lima senti perjalanan, ada rumah dipenuhi anggur
Tampak lampunya terang terpancar dari jendela kacanya
Lantunan sajak-sajak cinta menerpa setiap temboknya nan kokoh
Renda-renda awan sore,
Berkicau mengisyaratkan sebuah rasa kagum.

Lima senti perjalanan untuk kesekian kali,
langkah terhenti,
melihat kaki-kaki kecil, lusuh dan menghitam,
menyeberangi rel kereta api.
Perih hati tersayat, lima senti sayatannya.
Aku menyaksikan sebuah potret lain
Satunya, membawa karung kumuh dan menggendong adiknya,
Sedang yang lainnya menjunjung asoi biru di atas kepalanya.
Kaki-kaki kecil itu tak mampu berbohong,
Mereka sepertinya kuat, tapi tertatih di atas kerikil tajam

Aku mengusap keringat dengan lengan baju,
masih mempertanyakan: "Ken-apakah mereka masih memiliki harapan?"

Setiap lima senti perjalanan, aku menginjakkan kaki
Kaki tanpa kasut yang membalut
Terbangun, bahwa setiap lima senti perjalananku memilki cerita lain.

Edo Hia - Padang, 1 juni 2015

Sabtu, 23 Agustus 2014




Cahaya Terakhir Lilin Kecil

Aku memandangi wajahmu bersama lirih angin, bersinar penuh cinta
Wajahmu indah layaknya edelweis, ia memberi harapan untukku tetap tegar
Namun, jiwa ragaku digerogoti rasa takut, takut jika suatu saat bunga itu menangis kehilangan.
"Sayang, jika kini aku tumbuh bersama penyakit yg melumat isi tubuhku, tapi aku tak pernah memberitahumu, dan suatu saat engkau tau dari org lain, bukan dariku, apa yg akan kau lakukan?"
Mata itu sekejap berkaca, hatinya tersayat, terlukis jelas dan bibirnya gemetar, "Aku akan marah padamu! Ya, aku akan sangat marah!"
Pipinya dialiri air mata.

Dipayungi sinar lilin kecil, aku berteriak sementara bibirku rapat tertutup, hatiku menangis sementara bibirku mencoba tuk tersenyum.
Aku menulis sebuah surat untuknya, "Sayang, kau adalah bunga edelweis yg tumbuh bersama senyum, tawa dan harapan. Jangan kau basahi ia dengan air mata kesedihan esok hari. Aku bukan ingin membuatmu marah karna tak memberitahumu tentang sakit yg kini menemani sisa hidupku. Namun, aku tak ingin merusak senyum indahmu. Biarkan ia tetap indah seperti saat pertama bersua. Biarkan! Aku bukan tak ingin berbagi derita, tetapi ketahuilah aku tak ingin hidupmu dipasung oleh khawatir dan didera rasa cemas terhadapku. Aku ingin melihat kau tetap tersenyum bersamaku agar aku tetap tegar dalam harapan. Sayang, saat ini aku sedang tersenyum. Aku merasa menang melawannya, karna ketika ia terus melumat tubuhku, aku tak pernah mengeluh akan hidupku karna kau ada di sisiku. Sehingga aku tegar memeranginya. Kini, aku adalah lilin kecil yg telah redup dan akan mati bersama waktu. Jika suatu saat kau merasa sepi, ketahuilah, aku sedang bersamamu. Aku tak pernah mati di dalam hatimu. Bagaimana aku telah mati? Karna jika kau merasa kehilangan, berarti aku tidak pernah ke mana-mana, aku sedang tersimpan rapi dalam hatimu yang paling dalam. Aku tak pernah pergi selamanya dan aku selalu tinggal di dalam hatimu selamanya."

Aku memandangi lilin kecil yang mulai redup sinarnya. Aku bercerita banyak hal kepadanya. Jika sisa waktuku masih banyak, aku akan mengecup bibirnya semenit saja dan memeluk erat tubuhnya. Merasakan hangatnya cinta dari edelweis dan berkata padanya, "Kau adalah harapan. Kau membuatku tegar dan menghabiskan hidup dengan senyuman, bukan mengeluh. AKu bahagia bersamamu".

Kemudian, api lilin itu mati meninggalkan asap dalam sunyi dan tersenyum.

Oleh: Edo Hia
Padang, 6 Agustus 2014