Aku TKI
Aku
Sudarmanto,
pekerja dari
tanah Jawa untuk Malaysia
Berumur 29
tahun dan telah bekerja bertahun-tahun,
hingga tak
ingat lagi kapan aku pertama kali dikirim ke sini,
di negeri yang
katanya dibenci ini.
Aku
Sudarmanto,
dulunya aku
cerdas di sekolah, tetapi putus sekolah karena biaya mahal.
Kini, bekerja
mulai dari pagi buta hingga malam menjemput.
Tak pernah
jumpa matahari hingga berbulan-bulan,
akulah di
dalam kilang di bawah suruhan sang boss kilang yang wajahnya sangar, kusebut
Ayam Jago.
Kini, hidupku
telah terasa biasa.
Padahal
dulunya menyakitkan, kurasa.
Masuk kerja
menaiki bas pekerja berhimpitan, lalu pulang ke hostel dengan perut kosong dan
peluh letih.
Makan
sesekali, bukan ketika lapar
tetapi hanya ketika
kantongku berisi.
Masih terngiang
bagaimana,
layaknya siput
dalam tempurung,
berjalan pelan
mencari luar dari lingkaran gelap.
Bekerja di
bawah tekanan dan dibentak layaknya binatang,
berbuat salah
dipotong gaji.
Upahku per bulan
cukup tinggi,
..............
sebenarnya.
Tapi, ia
dipotong banyak oleh agen naker
dan aku kirim separoh
untuk keluarga di kampung.
Mereka cukup
senang dengan kiriman uangku,
tapi tak tahu
aku menderita,
irit untuk
makan, hingga sering sakit,
pakaian lusuh
kusandang terus,
dulunya kubeli
di pasar seken di dekat perimpangan stasiun.
Apa daya,
keluargaku tak boleh tahu bahwa aku sedang susah.
Mereka cukup
melihatku,
aku orang yang
berhasil,
karena aku
sedang di negeri orang.
Di kantin
kilang aku melihat
orang makan
dengan lahapnya, menyantap nasi lemak atau daging ayam berkuah dan nasinya yang
masih hangat.
Sedang aku
hanya menghisap rokok dan kopi hitam, sesekali melap peluh di kening dengan
handuk kecil yang mulai lapuk dan sedikit koyak.
Aku
Sudarmanto,
dulunya orang
baik.
Hidupku
layaknya tak lagi bergairah,
tapi sering
aku bercinta dengan gadis Vietnam,
melumut habis
tubuhnya yang putih mulus siang-siang
di toilet
kilang. Ia kegirangan, nakal dan binal. Berulang kali, karena ia terus menagih
dengan binal dan penuh nafsu. Memadu nafsu yang kian lama kurindu dan kehausan.
Meski aku punya anak dua di kampung yang umurnya entah sudah berapa.
Tapi, apalah
daya jika nafsu menggejolak.
Aku tak suka
dengan gadis Myanmar,
mulutnya bau
karena sarapan sirih.
Sedang gadis
Nepal dan Bangladesh, bodinya bohai
hitam manis
tapi jual mahal.
Gadis Melayu
banyak yang tertarik padaku,
tapi, ah,
mereka banyak yang munafik.
Dulu, waktu
jalan-jalan ke kota sebelah,
aku bertemu
teman lama, sesama TKI,
katanya ia
punya teman seorang wanita, pembantu rumah tangga,
namanya kalau
tak salah Lastri.
Ia pernah
disulut rokok oleh majikannya, dikurung di kamar mandi hingga disetrika
mulutnya.
Ia lalai
ketika memasak sayur sedikit tak enak dirasa.
Di sini,
banyak orang Indonesia, eh Indon sebutannya,
masih
beranggapan bahwa kaum sesama kami adalah keluarga.
Tetapi
orang-orang ini, di sini,
kami tak
ubahnya sekumpulan binatang yang suatu saat bisa digiring dan disuruh-suruh
untuk bekerja dan diludahi jika kami berjalan di pinggiran kota pada hari libur
nasional.
Bahkan sering
terjaring razia dan dianggap pendatang gelap.
Aku
Sudarmanto,
seorang TKI
dari tanah Jawa.
Hidup dalam
pas foto lama hitam putih.
Merindukan
kampung halaman, rumah, keluarga dan kebun yang dulunya sering aku tanami ubi.
Aku rindu
bermain gitar di persimpangan jalan ketika malam hari, membawakan lagu Sajojo
dan lagu Tomi J. Pisat,
rindu akan
makanan khasnya dan riak laut ketika memancing di laut tak jauh dari rumah,
rindu
anak-anakku
yang ketika kutinggalkan masih berumur 2 dan 6 tahun, rindu mengantar anakku
pergi sekolah dengan seragam putih merahnya, rindu menginjak tanah Indonesia
yang subur,
rindu
mendengar lantunan Indonesia Raya berkumandang dengan kibaran benderanya,
karena aku mulai lupa liriknya. Tapi, jangan salah, nasionalismeku cukup tinggi
dan terasa lebih daripada siapa pun,
meski negara
memeras dan memperbudakku dengan rayuan
label pahlawan
devisa.
Aku
Sudarmanto,
mulai
kehilangan jati diri.
Hidup tak
jelas, bertahan dengan segala penyakit yang mulai merongrong, tak lagi mengenal
Tuhanku, sudah 2 tahun tak menginjak masjid, tak lagi memiliki masa depan, otakku
baku karena jarang dipakai dan hanya berlabel budak!
Tapi, aku
Sudarmanto, seorang TKI,
aku ingin
mempertanyakan sesuatu hal dalam diriku:
Kenapa aku
dulunya ingin datang dan bekerja ke sini?
Tidakkah ada
pekerjaan yang lebih manusiawi di negeriku sendiri?
Masih
pantaskah aku untuk kembali pulang dan memeluk rumah yang telah lama
kuceraikan? Bahkan aku kini bersimbah luka penuh nanah dan dosa.
Aku
Sudarmanto,
Aku TKI.
Padang, 19 Mei
2015