Translate

Sabtu, 23 Agustus 2014




Cahaya Terakhir Lilin Kecil

Aku memandangi wajahmu bersama lirih angin, bersinar penuh cinta
Wajahmu indah layaknya edelweis, ia memberi harapan untukku tetap tegar
Namun, jiwa ragaku digerogoti rasa takut, takut jika suatu saat bunga itu menangis kehilangan.
"Sayang, jika kini aku tumbuh bersama penyakit yg melumat isi tubuhku, tapi aku tak pernah memberitahumu, dan suatu saat engkau tau dari org lain, bukan dariku, apa yg akan kau lakukan?"
Mata itu sekejap berkaca, hatinya tersayat, terlukis jelas dan bibirnya gemetar, "Aku akan marah padamu! Ya, aku akan sangat marah!"
Pipinya dialiri air mata.

Dipayungi sinar lilin kecil, aku berteriak sementara bibirku rapat tertutup, hatiku menangis sementara bibirku mencoba tuk tersenyum.
Aku menulis sebuah surat untuknya, "Sayang, kau adalah bunga edelweis yg tumbuh bersama senyum, tawa dan harapan. Jangan kau basahi ia dengan air mata kesedihan esok hari. Aku bukan ingin membuatmu marah karna tak memberitahumu tentang sakit yg kini menemani sisa hidupku. Namun, aku tak ingin merusak senyum indahmu. Biarkan ia tetap indah seperti saat pertama bersua. Biarkan! Aku bukan tak ingin berbagi derita, tetapi ketahuilah aku tak ingin hidupmu dipasung oleh khawatir dan didera rasa cemas terhadapku. Aku ingin melihat kau tetap tersenyum bersamaku agar aku tetap tegar dalam harapan. Sayang, saat ini aku sedang tersenyum. Aku merasa menang melawannya, karna ketika ia terus melumat tubuhku, aku tak pernah mengeluh akan hidupku karna kau ada di sisiku. Sehingga aku tegar memeranginya. Kini, aku adalah lilin kecil yg telah redup dan akan mati bersama waktu. Jika suatu saat kau merasa sepi, ketahuilah, aku sedang bersamamu. Aku tak pernah mati di dalam hatimu. Bagaimana aku telah mati? Karna jika kau merasa kehilangan, berarti aku tidak pernah ke mana-mana, aku sedang tersimpan rapi dalam hatimu yang paling dalam. Aku tak pernah pergi selamanya dan aku selalu tinggal di dalam hatimu selamanya."

Aku memandangi lilin kecil yang mulai redup sinarnya. Aku bercerita banyak hal kepadanya. Jika sisa waktuku masih banyak, aku akan mengecup bibirnya semenit saja dan memeluk erat tubuhnya. Merasakan hangatnya cinta dari edelweis dan berkata padanya, "Kau adalah harapan. Kau membuatku tegar dan menghabiskan hidup dengan senyuman, bukan mengeluh. AKu bahagia bersamamu".

Kemudian, api lilin itu mati meninggalkan asap dalam sunyi dan tersenyum.

Oleh: Edo Hia
Padang, 6 Agustus 2014



Cerita Pendek tentang Mimpi Semalam

Aku bermimpi tentangnya
Dia yang pernah kutancapkan duri kelam dalam hatinya
Cerita tentangnya kembali menyeruat dalam benak
Melagukan cerita pahit nan berbuah sesal
Maafku tak pernah tersampaikan oleh merpati pos yang kuterbangkan
Adakah cerita lain yang harus membuatku gundah saat gairahku pupus?


Kamu tahu?
Aku pernah bermimpi
tentang menantikan sebuah kapal pembawa damai dan mawar
Aku menanti di bibir pantai dengan balutan senja
Menanti saat ia membawaku ke pulau sebrang
Namun, ia tak pernah melabuh.

Padang,     Maret 2014
Oleh: Edo Hia


Bermula dari Leluhur Berbudaya, dan...


Ini murka tak terbagi embun hitam
Ini pilu tak tertahan ditiup angin kebencian
Bermula dari leluhur bodoh namun berbudaya
Menjadi generasi cerdas namun pembohong
Sang kanibal di ranahnya
Tempat ia datang dari selangkangan ibunya

Ini padang hijau yang tak ada di belahan lain
Di mana ia punya kisah sendu dan sejuta cerita
Kaya nurani dan budaya
Bermula saat leluhur masih menyembah batang pohon
Seribu nyanyian roh terpanggil
Segaris tato yang mengkilat bersama keringat
Di saat daun menyembuhkan luka
Di mana hati berselimutkan damai dan polos

Semua berubah!
Ditelanjangi oleh ego dan angkuh
Menjual budaya demi kursi tahtah murahan
Menginjak-injak kepala ibunya
Mengukir namanya pada tulang yang akan dimakan anjing
Terbuai oleh zaman fatamorgana
Bagaikan babi yang terbirit oleh pemburuh harta
Menanti kapal bajak laut pembawa damar

Inilah tanah kelahiranku
Rerumputannya yang aku rindukan
Tariannya yang gemulai dalam polos dan nurani
Meliukkan cintanya bersama alam
Murka takkan mampu menekuk lututnya untuk berdiri

Aku hanya segenggam jari
Namun menjamah gumpalan liat untuk menciptakan waktu
Mencekik para lintah darat tak berhati
Di sinilah aku berdiri dan kelak mati.

Padang,     Februari 2014
Oleh: Edo Hia