Bermula
dari Leluhur Berbudaya, dan...
Ini murka tak terbagi embun hitam
Ini pilu tak tertahan ditiup angin kebencian
Bermula dari leluhur bodoh namun berbudaya
Menjadi generasi cerdas namun pembohong
Sang kanibal di ranahnya
Tempat ia datang dari selangkangan ibunya
Ini padang hijau yang tak ada di belahan lain
Di mana ia punya kisah sendu dan sejuta cerita
Kaya nurani dan budaya
Bermula saat leluhur masih menyembah batang pohon
Seribu nyanyian roh terpanggil
Segaris tato yang mengkilat bersama keringat
Di saat daun menyembuhkan luka
Di mana hati berselimutkan damai dan polos
Semua berubah!
Ditelanjangi oleh ego dan angkuh
Menjual budaya demi kursi tahtah murahan
Menginjak-injak kepala ibunya
Mengukir namanya pada tulang yang akan dimakan anjing
Terbuai oleh zaman fatamorgana
Bagaikan babi yang terbirit oleh pemburuh harta
Menanti kapal
bajak laut pembawa damar
Inilah tanah kelahiranku
Rerumputannya yang aku rindukan
Tariannya yang gemulai dalam polos dan nurani
Inilah tanah kelahiranku
Rerumputannya yang aku rindukan
Tariannya yang gemulai dalam polos dan nurani
Meliukkan
cintanya bersama alam
Murka takkan mampu menekuk lututnya untuk berdiri
Aku hanya segenggam jari
Namun menjamah gumpalan liat untuk menciptakan waktu
Mencekik para lintah darat tak berhati
Di sinilah aku berdiri dan kelak mati.
Murka takkan mampu menekuk lututnya untuk berdiri
Aku hanya segenggam jari
Namun menjamah gumpalan liat untuk menciptakan waktu
Mencekik para lintah darat tak berhati
Di sinilah aku berdiri dan kelak mati.
Padang, Februari 2014
Oleh: Edo Hia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar