Translate

Rabu, 07 Agustus 2013



Cerita Perjalanan ke Kinali, Pasaman

Sebuah tempat nyaman yang baru saya kunjungi, Pasaman. Pasaman adalah sebuah kecamatan di Sumatera Barat. Kali ini, saya berkunjung ke daerah Pasaman Barat, tepatnya di Kinali. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di tempat ini. Tempatnya bersih dan jauh dari polusi seperti yang saya alami di kota Padang. Lingkungannya nyaman dan asri. Perumahannya pun terbilang cukup sederhana, di mana sebagian rumah penduduknya masih ada yang dibangun secara semi-permanen. Di sepanjang jalan pun, Anda akan melihat banyak pepohonan yang tumbuh di pinggir jalan. Ada pohon pisang, pohon jambu, cemara, pohon kelapa, nangka bahkan pohon sawit yang menjadi ciri khas daerah ini. Tetapi sayangnya, kondisi jalan di sini kurang baik, di mana jalanannya banyak yang berlobang dan terbilang rusak. Namun, Anda tidak akan merasa bosan berada di sini. Di samping itu, kehidupan warganya terbilang cukup baik, di mana suasananya sangat berbeda di kota-kota. Di sini. Penduduknya saling tegur sapa ketika bertemu di jalan dan hidup rukun antar tetangga yang ditunjukkan ketika saya berada di tempat ini. Hal lain yang menjadi perhatian saya ketika berada di tempat ini adalah bangunan gerejanya. Gereja di Kinali ini sangat megah dengan patung Bunda Maria berada di depannya seakan menyambut umatnya untuk masuk. Itulah hal-hal yang saya rasakan dan alami di tempat ini.
Perjalanan saya kali ini berawal di saat teman saya, Eko mengajak saya untuk liburan ke kampung halamannya. Tanpa berpikir panjang, saya pun mengiyakannya. Lalu, pada hari Senin, tanggal 5 Agustus 2013, kami berdua berangkat memulai perjalanan dari Padang sekitar pukul 17.00 WIB dengan mengendarai Vario Biru miliknya. Setelah melewati batas kota Padang, kami berhenti untuk beristirahat di pinggiran jalan. Kami pun menyantap ayam goreng yang baru saja kami beli. Kemudian, saya membeli minuman soda untuk menghilangkan haus, yang kebetulan warungnya berada tak jauh dari tempat kami berhenti. Banyak orang yang melihat ke arah kami yang sedang asyik menyantap dikarenakan saat itu belum waktunya berbuka puasa. Tetapi, kami sudah berbuka duluan. Haha.. Tetapi, kami cuek saja. Kemudian, kami terus melanjutkan perjalanan. Di Pariaman, kami membeli gorengan (Sala Lauak dan Udang Goreng) untuk cemilan di atas motor. Untuk sedikit bersantai, kami merubah arah laju motor ke arah kiri. Kali ini, kami melewati Pantai Pariaman. Tapi, sore itu, pantainya sedikit sepi. Setibanya di Lubuk Basung, kami berhenti sebentar untuk makan sate yang kebetulan ada di pinggir jalan. Tidak butuh waktu lama, kami menghabiskannya sambil terus bercerita. Kami kemudian melanjutkan perjalanan karena hari semakin gelap.
Semakin lama, hari semakin larut. Perjalanan di atas motor kami habiskan hanya dengan bercerita dan sesekali bercanda gurau. Bahkan tak jarang, Eko mengejutkan anak-anak yang sedang berjalan kaki yang membuat saya tertawa terbahak melihat ekspresi mereka. Sekitar, pukul 21.30 WIB, kami tiba di Kinali. Kami tidak langsung menuju rumahnya, tetapi kami berhentidi sebuah rumah di mana ada banyak pemuda yang sedang nongkrong dan minum tuak. Sambutan mereka cukup hangat. Mereka mengajak kami untuk bergabung bersama mereka dan menawari kami minum. Saya pun mencicipinya, namun hanya beberapa tetes saja karena saya tidak terbiasa meminumnya. Dikarenakan mereka semua adalah anak-anak keturunan Jawa, jadi mereka bercengkrama hanya dengan bahasa Jawa. Saya pun memilih diam di antara mereka dan terus memainkan handphone membalas sms. Tak terasa, sudah pukul 23.00 WIB dan kami pun segera pulang duluan. Tak jauh dari tempat tadi, hanya sekitar 5 menit jaraknya, kami pun tiba di rumah Eko. Adik perempuannya membukakan pintu dan kami pun masuk. Saya kemudian berkenalan dan menyalami orang tuanya dan kami langsung memilih untuk istirahat di kamar karena kelelahan.

Namun, kami tidak langsung tidur. Malam itu adalah malam yang panjang buat Eko yang sedang galau (jika kamu tau dia kenapa). Haha.. Kami sedikit bercerita dan terus bercerita. Lalu, untuk menghilangkan rasa gundah gulana itu, ia pun menghidupkan laptop untuk bermain game GTA San Andreas. Tetap saja dengan tampang kusut dan suram tentunya. Saya pun memilih untuk segera tidur duluan.
Keesokan harinya, saya terbangunduluan dan segera mencuci muka, sementar Eko masih saja terbaring tidur. Saya terus saja mengganggunya, tetapi ia tetap tidak mau bangun. Akhirnya, sekitar pukul 10.00 WIB, ia pun terbangun dan langsung mengajak untuk pergi memancing. Sebelum pergi, kamu makan dulu. Lalu, kami pergi dengan mengendarai Supra Hitam milik ayahnya. Perjalanan ke tempat pemancingan pun jauh. Belum lagi jalanan berbatu yang mengganggu perjalanan kami. Kami melewatinya sambil terus bercerita dan bercanda. Jalanannya sangat gersang dan di sepanjang jalan itu juga diikuti bandar yang memanjang tak berujung. Di balik bandar itu adalah ladang sawit, hampir setiap meter yang kami lalui ditumbuhi oleh pohon sawit. Namun sayangnya, hutan di sini telah tergantikan ladang sawit. Kemudian, akmi berhenti di sebuah ladang sawit untuk mencari umpan cacing. Tentunya, Eko masih dengan suasana galaunya dan saya pun tak jarang selalu meledeknya. Setelah cacing yang kami dapatkan banyak, kamibpun memutuskan untuk melanjutkan rencana memancing. Sambil terus berjalan di bawah terik matahari, ban depan motor pun pecah. Tetapi, kami tetap memaksakannya karena perjalanan kami masih jauh. Akhirnya, kami berhenti di sebuah pinggir bandar besar. Tanpa banyak omong, kami langsung melemparkan pancing ke dalam air, tak butuh waktu lama saya pun mendapat ikan kecil. Waktu itu, kami memancing sembari sms-an. Entah apa yang membuat sial, setelah setengah jam kami duduk bermenung di situ, ikan yang kami dapat hanya beberapa ekor saja. Mungkin karena Eko yang masih galau dan saya terus-menerus menertawainya. Kesialannya mungkin ada pada Eko. Hehe.. Ciee.. Yang lagi galau.. Hehe.. Peace! Karena sudah bosan berada di situ, kami pun segera mencari tempat lain.
Namun, di tengah perjalanan, ban belakang motor pun ikut pecah. Fak! Kesialan apa lagi ini? Betapa sialnya kami hari itu. Mungkin, karena Eko yang setengah hati membawa motor dan setengah hatinya lagi ketinggalan di Padang. Heheh.. Dengan terus memaksakan kondisi ban motor yang keduanya telah pecah, kami terus melanjutkan perjalanan. Kami pun mencoba memancing di beberapa tempat, namun hasilnya sama saja. Akhirnya kami berjalan kaki sambil mendorong motor dan tiba di ladang sawitnya Eko, kami pun berhenti di sana. Kami memancing di sebuah kolam. Namun, alih-alih ikan yang didapat, mata kail kami pun tersangkut di dasar kolam. Kami pun membiarkannya begitu saja, karena sudah merasa bosan. Kami hanya bercerita panjang seputar kegalauan yang sedang dia alami saat itu dan mungkin masih sampai sekarang. Hahah.. Mata kail yang tersangkut tadi tidak lagi kami ambil melainkan diputuskan begitu saja. Kami pun membuang ikan-ikan hasil pancingan tadi karena Cuma beberapa ekor saja dan juga umpan cacing yang kami bawa. Mungkin, kami tidak cocok memancing ikan, mungkin cocoknya hanya memancing keributan saja. Heheh.. Kami pun pergi untuk pulang. Masih mendorong motor tadi. Karena mengingat waktu, kami membuat kesepakatan. Eko meninggalkanku sendirian di ladang sawit lalu mengantar motor ke bengkel dan menjemputku dengan Vario Birunya. Selang beberapa menit, dia pun kembali. Kami pun tidak langsung pulang. Kami memilih untuk bersantai sambil duduk di tengah jalan untuk menikmati sore ladang sawit.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Kami pun beranjak dan memutuskan untuk segera pulang. Tetapi, di tengah jalan, kami memutuskan untuk menemui teman SMK dulu yang sudah lama tidak saya temui. Rumahnya berada tepat di sampin Masjid Baba Salam. Kami pun duduk di depan rumahnya sambil bercanda sambil sesekali saling meledek. Maklum, tradisi sewaktu masih di SMK dulu. Penyakit lama kambuh lagi.
Kami pun pulang ke rumah tepat sebelum orang berbuka puasa. Kami kemudian mandi dan makan. Saya duduk sebentar di ruang tamu sambil mencharging handphone. Eko mengajak saya untuk keluar rumah. Kami menuju tempat nongkrong teman-teman yang kemarin, namun di tempat yang berbeda. Saat sedang bercengkrama, ada banci mampir ke tempat kami nongkrong. Banci itu pun dengan genitnya menggoda semua cowok yang ada di situ termasuk saya. Karena merasa geli dan risih, saya pun memilih untuk mencari tempat yang strategis dan aman dari segala gangguan makhluk ragu-ragu itu. Ternyata, beberapa dari anak-anak yang nongkrong itu ada yang bisa berbahasa Mentawai. Jadi, saya sedikit mengobrol dengan mereka. Teman-teman lain yang tidak mengerti apa yang sedang kami bicarakan hanya tertawa sambil meledek kami. Pukul 23.00 WIB, kami segera bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Kami pulang larut lagi dan keluarganya telah tertidur. Kami masuk ke rumah dan langsung menuju tempat tidur. Tetepi, Eko masih saja galau. Haha..
Saya menulis cerita liburan kali ini pagi hari setelah saya bangun pagi. Saya rencananya akan pulang ke Padang hari ini dengan menumpangi bus.
Pukul 11.15 WIB, saya berpamitan kepada ibunya Eko sedangkan ayahnya sedang tidak di rumah. Saya menuju pasar untuk mendapatkan bus dan diantar oleh Eko yang masih galau. Saya yang kala itu menggunakan pakaian yang serba hitam sambil menjinjing helm fullface saya mengambil tempat duduk paling depan di belakang supir bus. Saya tiba di Padang pukul 14.00 WIB dan dijemput oleh teman, Ricky Lepox.
Sekian cerita perjalanan saya kali ini. Sampai jumpa di cerita saya yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar