Translate

Rabu, 07 Agustus 2013



Cerita Perjalanan ke Kinali, Pasaman

Sebuah tempat nyaman yang baru saya kunjungi, Pasaman. Pasaman adalah sebuah kecamatan di Sumatera Barat. Kali ini, saya berkunjung ke daerah Pasaman Barat, tepatnya di Kinali. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di tempat ini. Tempatnya bersih dan jauh dari polusi seperti yang saya alami di kota Padang. Lingkungannya nyaman dan asri. Perumahannya pun terbilang cukup sederhana, di mana sebagian rumah penduduknya masih ada yang dibangun secara semi-permanen. Di sepanjang jalan pun, Anda akan melihat banyak pepohonan yang tumbuh di pinggir jalan. Ada pohon pisang, pohon jambu, cemara, pohon kelapa, nangka bahkan pohon sawit yang menjadi ciri khas daerah ini. Tetapi sayangnya, kondisi jalan di sini kurang baik, di mana jalanannya banyak yang berlobang dan terbilang rusak. Namun, Anda tidak akan merasa bosan berada di sini. Di samping itu, kehidupan warganya terbilang cukup baik, di mana suasananya sangat berbeda di kota-kota. Di sini. Penduduknya saling tegur sapa ketika bertemu di jalan dan hidup rukun antar tetangga yang ditunjukkan ketika saya berada di tempat ini. Hal lain yang menjadi perhatian saya ketika berada di tempat ini adalah bangunan gerejanya. Gereja di Kinali ini sangat megah dengan patung Bunda Maria berada di depannya seakan menyambut umatnya untuk masuk. Itulah hal-hal yang saya rasakan dan alami di tempat ini.
Perjalanan saya kali ini berawal di saat teman saya, Eko mengajak saya untuk liburan ke kampung halamannya. Tanpa berpikir panjang, saya pun mengiyakannya. Lalu, pada hari Senin, tanggal 5 Agustus 2013, kami berdua berangkat memulai perjalanan dari Padang sekitar pukul 17.00 WIB dengan mengendarai Vario Biru miliknya. Setelah melewati batas kota Padang, kami berhenti untuk beristirahat di pinggiran jalan. Kami pun menyantap ayam goreng yang baru saja kami beli. Kemudian, saya membeli minuman soda untuk menghilangkan haus, yang kebetulan warungnya berada tak jauh dari tempat kami berhenti. Banyak orang yang melihat ke arah kami yang sedang asyik menyantap dikarenakan saat itu belum waktunya berbuka puasa. Tetapi, kami sudah berbuka duluan. Haha.. Tetapi, kami cuek saja. Kemudian, kami terus melanjutkan perjalanan. Di Pariaman, kami membeli gorengan (Sala Lauak dan Udang Goreng) untuk cemilan di atas motor. Untuk sedikit bersantai, kami merubah arah laju motor ke arah kiri. Kali ini, kami melewati Pantai Pariaman. Tapi, sore itu, pantainya sedikit sepi. Setibanya di Lubuk Basung, kami berhenti sebentar untuk makan sate yang kebetulan ada di pinggir jalan. Tidak butuh waktu lama, kami menghabiskannya sambil terus bercerita. Kami kemudian melanjutkan perjalanan karena hari semakin gelap.
Semakin lama, hari semakin larut. Perjalanan di atas motor kami habiskan hanya dengan bercerita dan sesekali bercanda gurau. Bahkan tak jarang, Eko mengejutkan anak-anak yang sedang berjalan kaki yang membuat saya tertawa terbahak melihat ekspresi mereka. Sekitar, pukul 21.30 WIB, kami tiba di Kinali. Kami tidak langsung menuju rumahnya, tetapi kami berhentidi sebuah rumah di mana ada banyak pemuda yang sedang nongkrong dan minum tuak. Sambutan mereka cukup hangat. Mereka mengajak kami untuk bergabung bersama mereka dan menawari kami minum. Saya pun mencicipinya, namun hanya beberapa tetes saja karena saya tidak terbiasa meminumnya. Dikarenakan mereka semua adalah anak-anak keturunan Jawa, jadi mereka bercengkrama hanya dengan bahasa Jawa. Saya pun memilih diam di antara mereka dan terus memainkan handphone membalas sms. Tak terasa, sudah pukul 23.00 WIB dan kami pun segera pulang duluan. Tak jauh dari tempat tadi, hanya sekitar 5 menit jaraknya, kami pun tiba di rumah Eko. Adik perempuannya membukakan pintu dan kami pun masuk. Saya kemudian berkenalan dan menyalami orang tuanya dan kami langsung memilih untuk istirahat di kamar karena kelelahan.

Namun, kami tidak langsung tidur. Malam itu adalah malam yang panjang buat Eko yang sedang galau (jika kamu tau dia kenapa). Haha.. Kami sedikit bercerita dan terus bercerita. Lalu, untuk menghilangkan rasa gundah gulana itu, ia pun menghidupkan laptop untuk bermain game GTA San Andreas. Tetap saja dengan tampang kusut dan suram tentunya. Saya pun memilih untuk segera tidur duluan.
Keesokan harinya, saya terbangunduluan dan segera mencuci muka, sementar Eko masih saja terbaring tidur. Saya terus saja mengganggunya, tetapi ia tetap tidak mau bangun. Akhirnya, sekitar pukul 10.00 WIB, ia pun terbangun dan langsung mengajak untuk pergi memancing. Sebelum pergi, kamu makan dulu. Lalu, kami pergi dengan mengendarai Supra Hitam milik ayahnya. Perjalanan ke tempat pemancingan pun jauh. Belum lagi jalanan berbatu yang mengganggu perjalanan kami. Kami melewatinya sambil terus bercerita dan bercanda. Jalanannya sangat gersang dan di sepanjang jalan itu juga diikuti bandar yang memanjang tak berujung. Di balik bandar itu adalah ladang sawit, hampir setiap meter yang kami lalui ditumbuhi oleh pohon sawit. Namun sayangnya, hutan di sini telah tergantikan ladang sawit. Kemudian, akmi berhenti di sebuah ladang sawit untuk mencari umpan cacing. Tentunya, Eko masih dengan suasana galaunya dan saya pun tak jarang selalu meledeknya. Setelah cacing yang kami dapatkan banyak, kamibpun memutuskan untuk melanjutkan rencana memancing. Sambil terus berjalan di bawah terik matahari, ban depan motor pun pecah. Tetapi, kami tetap memaksakannya karena perjalanan kami masih jauh. Akhirnya, kami berhenti di sebuah pinggir bandar besar. Tanpa banyak omong, kami langsung melemparkan pancing ke dalam air, tak butuh waktu lama saya pun mendapat ikan kecil. Waktu itu, kami memancing sembari sms-an. Entah apa yang membuat sial, setelah setengah jam kami duduk bermenung di situ, ikan yang kami dapat hanya beberapa ekor saja. Mungkin karena Eko yang masih galau dan saya terus-menerus menertawainya. Kesialannya mungkin ada pada Eko. Hehe.. Ciee.. Yang lagi galau.. Hehe.. Peace! Karena sudah bosan berada di situ, kami pun segera mencari tempat lain.
Namun, di tengah perjalanan, ban belakang motor pun ikut pecah. Fak! Kesialan apa lagi ini? Betapa sialnya kami hari itu. Mungkin, karena Eko yang setengah hati membawa motor dan setengah hatinya lagi ketinggalan di Padang. Heheh.. Dengan terus memaksakan kondisi ban motor yang keduanya telah pecah, kami terus melanjutkan perjalanan. Kami pun mencoba memancing di beberapa tempat, namun hasilnya sama saja. Akhirnya kami berjalan kaki sambil mendorong motor dan tiba di ladang sawitnya Eko, kami pun berhenti di sana. Kami memancing di sebuah kolam. Namun, alih-alih ikan yang didapat, mata kail kami pun tersangkut di dasar kolam. Kami pun membiarkannya begitu saja, karena sudah merasa bosan. Kami hanya bercerita panjang seputar kegalauan yang sedang dia alami saat itu dan mungkin masih sampai sekarang. Hahah.. Mata kail yang tersangkut tadi tidak lagi kami ambil melainkan diputuskan begitu saja. Kami pun membuang ikan-ikan hasil pancingan tadi karena Cuma beberapa ekor saja dan juga umpan cacing yang kami bawa. Mungkin, kami tidak cocok memancing ikan, mungkin cocoknya hanya memancing keributan saja. Heheh.. Kami pun pergi untuk pulang. Masih mendorong motor tadi. Karena mengingat waktu, kami membuat kesepakatan. Eko meninggalkanku sendirian di ladang sawit lalu mengantar motor ke bengkel dan menjemputku dengan Vario Birunya. Selang beberapa menit, dia pun kembali. Kami pun tidak langsung pulang. Kami memilih untuk bersantai sambil duduk di tengah jalan untuk menikmati sore ladang sawit.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Kami pun beranjak dan memutuskan untuk segera pulang. Tetapi, di tengah jalan, kami memutuskan untuk menemui teman SMK dulu yang sudah lama tidak saya temui. Rumahnya berada tepat di sampin Masjid Baba Salam. Kami pun duduk di depan rumahnya sambil bercanda sambil sesekali saling meledek. Maklum, tradisi sewaktu masih di SMK dulu. Penyakit lama kambuh lagi.
Kami pun pulang ke rumah tepat sebelum orang berbuka puasa. Kami kemudian mandi dan makan. Saya duduk sebentar di ruang tamu sambil mencharging handphone. Eko mengajak saya untuk keluar rumah. Kami menuju tempat nongkrong teman-teman yang kemarin, namun di tempat yang berbeda. Saat sedang bercengkrama, ada banci mampir ke tempat kami nongkrong. Banci itu pun dengan genitnya menggoda semua cowok yang ada di situ termasuk saya. Karena merasa geli dan risih, saya pun memilih untuk mencari tempat yang strategis dan aman dari segala gangguan makhluk ragu-ragu itu. Ternyata, beberapa dari anak-anak yang nongkrong itu ada yang bisa berbahasa Mentawai. Jadi, saya sedikit mengobrol dengan mereka. Teman-teman lain yang tidak mengerti apa yang sedang kami bicarakan hanya tertawa sambil meledek kami. Pukul 23.00 WIB, kami segera bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Kami pulang larut lagi dan keluarganya telah tertidur. Kami masuk ke rumah dan langsung menuju tempat tidur. Tetepi, Eko masih saja galau. Haha..
Saya menulis cerita liburan kali ini pagi hari setelah saya bangun pagi. Saya rencananya akan pulang ke Padang hari ini dengan menumpangi bus.
Pukul 11.15 WIB, saya berpamitan kepada ibunya Eko sedangkan ayahnya sedang tidak di rumah. Saya menuju pasar untuk mendapatkan bus dan diantar oleh Eko yang masih galau. Saya yang kala itu menggunakan pakaian yang serba hitam sambil menjinjing helm fullface saya mengambil tempat duduk paling depan di belakang supir bus. Saya tiba di Padang pukul 14.00 WIB dan dijemput oleh teman, Ricky Lepox.
Sekian cerita perjalanan saya kali ini. Sampai jumpa di cerita saya yang lainnya.

Sabtu, 29 Juni 2013


HIDUP INDAH DI BALIK ANCAMAN HERNIA

Banyak teman-teman pernah ingin curhat ke aku, tapi banyak yang kemudian kecewa. Biasanya, kalau mereka pengen curhat, itu karena masalah cowok/cewek, teman/sahabat dan orang tua/keluarga. Ketiga hal inilah yang biasanya membuat orang bisa menangis. Lalu, kenapa mereka bisa sampai kecewa? Ya, kebanyakan teman aku pasti curhat masalah hati yang berhubungan dengan cowok/ceweknya. Seperti yang kita tau, kalau orang curhat pasti pengennya kita mendengar mereka lalu memberikan saran ke mereka. Tapi aku tidak. Aku lebih sering tidak meladeninya. Memang awalnya mendengarkan mereka, tapi kemudian aku bakal ngasih saran-saran konyol sehingga apa yang mereka inginkan gak kesampaian. Aku juga gak tau kenapa. Mungkin karena dasarnya aku yang gak berbakat di dunia curhat. Haha.. Atau memang karna aku yang selalu bersifat cuek. Bahkan, aku pun jarang curhat ke orang lain. Tapi, berbeda dengan hal ini. Ini lain cerita. Ada kalanya aku bisa cerita ke orang-orang tertentu saja atau merekalah yang bercerita ke aku. Secara gak sadar, aku bisa saja cerita ke orang lain tentang masalahku atau cerita masa lalu. Itu karna kalau aku merasa aku klop dengan cerita orang itu juga. Jadi, aku gak menyebutnya curhat, tapi aku lebih sering menyebutnya ‘bercerita’.

Jadi, ceritanya berawal dari sini. Aku punya teman, sebut saja Iko yang tanpa sadar aku sedang mendengarkan ceritanya yang serius. Biasanya, kami selalu bercerita hal-hal konyol tentang masa lalu, dan cerita-cerita yang tidak begitu serius dan semacamnya. Dia ngomong kalau dia sedang mengidap sebuah penyakit kronis. Penyakit apa itu? Awalnya, aku menanggapinya dengan gak serius. Pada awalnya, dia agak malu-malu gitu untuk menceritakannya. Tapi, katanya gak ada orang lain yang tau masalah ini. Hanya dia dan keluarganya saja yang tau. Jadi, dia juga ingin berbagi cerita ke orang lain. Tapi, akulah orang pertama yang dia kasih tau dan mungkin satu-satunya selain keluarganya. Aku juga gak tau kenapa ia mau cerita ke aku tentang masalah ini. Mungkin karna hubungan emosional yang memang sudah sangat dekat. Maklumlah, kita udah sahabatan sejak lama.

Penyakit yang ia derita selama ini adalah hernia. Ada yang tau hernia itu apa? Jadi, hernia itu adalah membengkaknya buah pelir (maaf) sesorang dikarnakan ususnya turun. Biasanya, penyakit ini karna lemahnya otot dinding perut akibat faktor terlalu aktif atau banyaknya kegiatan yang gak sebanding dengan staminanya. Penyakit ini sering juga disebut turun berok.

Aku terdiam mendengarnya bercerita, keningku mengerut dan aku menghela nafas. Iko mengaku kalau penyakit ini telah menggrogoti tubuhnya sejak ia baru berusia 13 yang Iko pada saat itu masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Berarti sampai saat ini Iko telah menyandang hernia ini selama kurang lebih 6,5 tahun. Katanya, selama itu dia membawa-bawa penyakit ini, selama itu pun waktu tak terasa olehnya. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa selama ini gak berobat? Yah, dengan tersenyum kecil dan mata berkaca-kaca, Iko mengaktakan kalau selama ini ia telah berusaha untuk berobat ke pengobatan alternative, bahkan telah berkali-kali tapi gak pernah ada perubahan. Satu-satunya jalan yang harus ia tempuh adalah operasi. Ya, hernia memang haruslah dioperasi. Tapi, orang tuanya tak punya biaya yang cukup untuk menjalani operasi itu. Selama ini, ia hanya bisa pasrah dengan hidupnya. Satu hal yang paling melekat di hatiku mendengar perkataan Iko adalah “Biarin aja penyakit ini bersama aku. Toh, gak ada lagi yang bisa aku perbuat selain pasrah. Aku hanya berpikir kalau Tuhan menitipkan kepadaku penyakit ini agar aku bisa menjaga tubuhku dan bisa menghargai tubuhku yang Dia berikan. Agar aku tak seperti orang lain yang sibuk merusak dirinya dengan alkohol, narkoba dan hal semacamnya, tapi aku hanya harus menjaga dan merawat diri agar penyakitku gak semakin parah. Aku telah bersama penyakit ini sejak SMP Ini sudah menjadi bagian dalam hidup aku”. Aku menjadi heran, Iko yang selama ini aku kenal adalah orang yang begitu hebat. Dia sangat aktif, dia pun hidup bebas seperti tanpa beban. Aku mengenalnya selama ini adalah sosok yang sangat suka bercanda dan tertawa selalu. Hidupnya berjalan santai tapi tetap pada alurnya. Dia memang gak ikut dalam kehidupan yang kelam, dia hanya berjalan sesuai hatinya. Iko juga baik ke setiap orang. Dan yang terpenting adalah dia selalu menghargai setiap orang yang ada di sekelilingnya.

Aku hanya terdiam dan bertanya, bagaimana ia bisa menjadi kuat? “Aku hanya berpikir kalau aku harus tetap hidup seperti apa adanya, bro. Gak perlu ngeluh tentang penyakit ini. Aku ingin hidup seakan tanpa penyakit dan harus tetap hidup seperti anak-anak lainnya. Buat apa mengeluhkan penyakit ini, coba? Iya gak? Kalau aku ngeluh dan menangisi penyakitku ini, itu sama saja dengan buang waktu dan hidup seakan menjadi gak berguna. Lebih baik kita nikmatin hidup ini seperti apa adanya, tapi jangan sampai meleset, bro. Itu lain cerita.” Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum mendengarnya berkata demikian. Aku terheran-heran dibuatnya. Namun di balik itu semua, dia tetap gak selamanya bisa bersembunyi di balik hernia yang dia derita selama ini. Iko mengaku kalau ia pernah merasakan sakit yang luar biasa baru-baru ini. Sakit itu belum pernah ia rasakan selama ini. Perutnya terasa sakit luar biasa dan tak tertahankan. Ia tidak kuat berdiri saat itu. Awalnya, sakit itu mulai terasa siang hari setelah pulang kuliah saat dia dan teman-temannya sedang nongkrong, namun sakitnya hanya sebatas sakit yang bisa ditahan. Namun, semakin lama dan hari semakin sore, perutnya mulai terasa seperti terlilit dan ia tak kuasa menahannya lagi. Ia hanya bisa menekan di bagian perutnya yang sakit. Matanya terpejam dan tak peduli lagi teman-temannya yang menanyakan ia kenapa. Iko langsung pulang seketika dan terburu-buru. Sesampainya di depan rumah, ia jatuh tersungkur tepat didepan pintu rumah yang masih terkunci karna gak ada orang di rumah. Iko tergeletak di teras rumahnya sekitar 1 menit. Perlahan ia mulai bangkit dan berdiri sambil tetap memegang perutnya. Iko membuka pintu dengan kunci dengan tangan gemetaran. Ia kemudian membuka lalu menutup pintu kembali dengan cepat. Lalu berbaring di kamarnya sambil berteriak menahan sakit itu. Ia menangis cukup lama. Seketika terlintas di pikirannya untuk menghina Tuhan. Namun tidak, ia malah mencoba berdoa sembari berbaring sambil memegang perutnya. “Aku rasa, itu adalah doaku yang paling serius, bro. Aku belum pernah berdoa sambil menangis seperti itu. Aku menangis bukan saja karna menahan rasa sakit, tapi lebih dari itu semua, aku mengingat Tuhan juga, aku mengingat kematian. Semuanya bercampur aduk. Memang, kita boleh merasa Tuhan menghukum atau mencobai kita, tapi jangan pernah sekalipun berniat untuk menghujat Tuhan. Gini-gini aku juga masih ingat Tuhan kok, bro. Hehe..” Sesaat setelah itu, sakitnya perlahan mulai hilang lalu ia tertidur.

Keluarganya tak pernah tau bahwa ia pernah merasakan hal ini. Sampai sekarang.

Hidup tanpa harapan adalah kosong. Namun, ia juga tak bisa banyak mengaharpkan apa-apa untuk bisa sembuh dari penyakitnya. Andai saja ada orang yang bisa menolongnya, ia akan sangat menaruh hormat terhadap orang itu. Tapi apa daya, hanya bisa berpasrah untuk saat ini. Saat menceritakan hal ini, matanya berkaca-kaca. Dan bagaimana dengan aku? Bahkan saat menuliskan cerita ini pun, aku gak sadar kalau mataku mulai berkaca-kaca mengingat sahabatku itu.

Banyak hal yang bisa aku pelajari dari pengalaman hidupnya dan bahkan dari keterpurukannya di dalam penyakit itu. Andai saja aku bisamenolongnya... Atau bahkan teman-teman yang membaca cerita ini. Aku harap kalian mau membantunya, setidaknya berdoa untuknya. kita tidak tau apa yang akan terjadi nantinya pada sahabatku yang satu ini. Biarkanlah menjadi sebuah misteri. (Sunday, June 30th 2013-Edo Hia)

Rabu, 19 Juni 2013

Teknik Persidangan



TEKNIK PERSIDANGAN
Persidangan merupakan suatu kegiatan yang selalu ada dalam setiap organisasi dan bersifat mutlak karena arah dan tujuan sebuah organisasi ditentukan lewat sebuah sidang. Persidangan adalah suatu forum yang bertujuan untuk menghasilkan keputusan-keputusan dan ketetapan-ketetapan tentang berbagai hal sesuai dengan agenda yang telah ditetapkan.
Perbedaan pokok antara persidangan dengan forum-forum lain seperti diskusi, dialog, rapat, dll. adalah terletak pada out put yang dihasilkan. Kalau dalam diskusi, dialog, rapat, seminar, simposium, lokakarya, dll. out put yang dihasilkan hanya berupa kesimpulan. Tetapi kalau dalam persidangan out put yang dihasilkan adalah keputusan dan ketetapan yang sifatnya mengikat dan harus dipertanggungjawabkan secara konstitusi atau hukum. Dalam sebuah sidang biasanya identik dengan adanya musyawarah, adanya perbedaan pendapat dan pengambilan keputusan.
A.     Jenis-jenis Sidang

1)     Sidang Komisi, yaitu sidang antar komisi-komisi yang bertujuan untuk membuat sidang menjadi lebih mudah dan lebih terfokus dalam sebuah masalah. Misalnya membahas ADRT. Sidang ini hanya membahas dan memberikan pendapat dan kemudian akan dimusyawarahkan di Sidang Pleno. (Dipimpin oleh satu orang, disebut Ketua Komisi).
2)     Sidang Pleno, yaitu sidang besar yang diikuti oleh semua orang dalam suatu organisasi untuk musyawarah membahas persoalan. (Dipimpin oleh 3 orang, disebut Pimpinan Sidang).
3)     Sidang Paripurna, yaitu sidang yang diikuti oleh semua orang dalam suatu organisasi dan berwenang untuk memutuskan dan menetapkan. Berbeda sengan Sidang Pleno yang hanya membahas masalah.

B.     Perangkat Sidang

1)     Peserta Sidang

Peserta sidang adalah orang-orang yang mengikuti sidang dari awal sampai akhir dan berpartisipasi dalam sidang.

Macam-macam peserta sidang:
a.      Peserta Penuh, peserta ini memiliki hak dalam suatu sidang, sbb:
·        Hak bicara
·        Hak suara
·        Hak dipilih dan mencalonkan diri
b.      Peserta Peninjau
·        Hanya memiliki hak bicara (bisa undangan, bisa orang yang di luar peserta penuh)

2)     Pimpinan Sidang atau Presidium Sidang

        Tugas seorang Pimpinan Sidang atau Presidium Sidang adalah sebagai pemimpin sidang dan sebagai mediasi. Menjadi seorang Pimpinan Sidang haruslah tegas, bijak dan tidak bertele-tele. Selain itu, Pimpinan Sidang juga harus mampu menguasai keadaan yang terjadi dalam sidang.
Macam-macam Pimpinan Sidang:

a.      Pimpinan Sidang Sementara (Dalam lingkungan kampus, biasanya dipilih dari DPMU)
Tidak berhak mengambil keputusan.
b.      Pimpinan Sidang Tetap
Dipilih dari Peserta Penuh.

3)     Materi Sidang

Dua hal yang selalu ada dalam setiap sidang adalah Agenda dan Tata Tertib.
Tata tertib adalah aturan yang mengatur jalannya sidang dari awal sampai selesai.
Agenda adalah hal yang akan dibahas dalam sidang. Misalnya Laporan Pertanggungjawaban dan ADRT.

4)     Palu Sidang

1x ketok berarti memutuskan
2x ketok berarti sidang dipending
3x membuka dan menutup sidang

C.     Lain-lain

1)     Interruption

a.      Interruption of order: digunakan ketika ingin menyampaikan pendapat, bertanya atau ingin meminta kejelasan.
b.      Interruption of information: digunakan ketika ingin memberi informasi.
c.      Interruption of clarification: digunakan ketika ingin memberi penjelasan tentang pendapat yang dilontarkan sebelumnya.
d.      Interruption of explanation: digunakan ketika ingin menegaskan pendapat.
e.      Interruption of personal: digunakan ketika ingin memberi penjelasan yang menjurus ke hal pribadi orang. Ex: menyerang orang lain mengenai agama atau kelakuan selagi masih menyangkut sidang.
        Interruption clarification dan interruption of explanation bisa digunakan saat terjadi run out dari pembahasan sidang. Dalam hal ini, Pimpinan Sidang harus mampu memilah jika ada pembicaraan yang lari dari pembahasan.
2)     Quorum Sidang

Jumlah yang ditetapkan untuk peserta untuk peserta sidang.
Contoh: ½ + 1
Quorum Sidang ditetapkan 17 orang, namun jika yang hadir hanya 7 orang, maka sidang belum bisa dimulai.

3)     Pending

Pending biasanya sesuai kesepakatan oleh forum sidang. Misalnya 1 x 15 menit atau 2 x 20 menit.

4)     Skorsing

a.      Skorsing terbatas
Waktunya sudah disepakati secara bersama.
b.      Skorsing tak terbatas
Skorsing yang terpaksa dilakukan karena tidak menemukan kejelasan atau terjadi kerusuhan.

5)     Peninjauan Kembali

Meninjau jika terjadi kesalahan saat sidang telah berjalan. Namun, peninjauan kembali ini harus melalui persetujuan Quorum.